Mobil Tamiya pun akan Uji emisi


Mobil balap mainan bermesin dinamo mini atau biasa disebut sebagai mobil ‘Tamiya’ diperkirakan akan segera masuk dalam daftar kendaraan yang wajib lolos uji emisi dan kelayakan. Hal ini dikemukakan oleh staf khusus Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di bidang otomotif miniatur, Erdy Zulaifin, kepada para wartawan saat berbicara mengenai masa depan kendaraan bermesin listrik di Indonesia.

Dalam acara konferensi pers yang diselenggarakan di kantor Kemenhub, Jakarta, pagi ini (30/6), Erdy menekankan pentingnya uji emisi dan kelayakan tersebut bagi keselamatan berkendara di jalan umum.

“Kita akan mendata apa saja yang harus lolos uji emisi dan kelayakan. Salah satunya adalah mobil Tamiya dan radio kontrol, itu ‘kan menggunakan mesin dinamo dan baterai listrik sehingga harus lolos uji emisi dulu sebelum bisa digunakan secara bebas,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa keputusan untuk mewajibkan mobil Tamiya untuk lolos uji muncul menyusul disitanya 10 kendaraan bermesin listrik hasil pengadaan proyek mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan oleh tim penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung. Dalam penyitaan tersebut, pihak Kejaksaan Agung menilai bahwa mobil-mobil bermesin listrik tersebut merupakan proyek gagal dan menghabiskan pajak masyarakat. Berdasarkan catatan Kemenhub, seperti yang dikemukakan oleh pihak Kejaksaan Agung, mobil-mobil tersebut tidak lolos uji kelayakan sehingga tidak dikeluarkan izin hasil tes kemudi.

Untuk mencegah hal ini terjadi kembali, Kemenhub sebagai pihak yang berwenang akan mewajibkan seluruh kendaraan dari berbagai ukuran yang menggunakan tenaga dinamo dan listrik untuk mengikuti uji emisi dan kelayakan.

“Sebagai kementerian berwenang, kita juga tidak mau kalau tiba-tiba nanti mobil-mobil Tamiya itu jalan sedikit lalu overheat. Apalagi jumlah pemilik dan pengguna Tamiya cukup banyak di Indonesia. Belum lagi radio control berbentuk macam-macam, ada mobil, helikopter, pesawat. Kalau tidak ada uji kelayakan, nanti bisa menambah polusi suara. Bagaimana kalau tiba-tiba terbakar, jatuh, atau melenceng jalur dan menabrak orang?” jelasnya.

Saat ditanya oleh para wartawan mengenai urgensi dari kebijakan tersebut mengingat penggunaan Tamiya dan radio control biasanya tidak digunakan di jalan umum, Erdy mengaku pihaknya tidak ingin mengambil resiko.

Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak bisa dijadikan standar. “Bisa saja ‘kan ada orang yang pakai dua buah Tamiya untuk jadi sepatu roda di jalan raya. Saya pernah lihat aksi seperti itu di tayangan Jackass, jadi jelas bahaya. Yang jelas kami tidak akan ambil resiko mengenai keselamatan. Kemenhub akan bekerjasama dengan Badan Standarisasi Nasional untuk ini. Tiap Tamiya harus mendapat lolos uji emisi dan kelayakan, lalu mendapat standar SNI. Ini tanggung jawab masing-masing pemilik.”

Erdy mulai tampak geram dan resah setelah para wartawan bertanya lebih lanjut dan membandingkan uji kelayakan antara Tamiya dan kendaraan-kendaraan umum yang kini beredar di jalan-jalan dan mengangkut penumpang. Salah satu yang dikemukakan adalah bus umum yang ternyata mudah terbakar namun lolos uji kelayakan dan hingga kini masih beroperasi.

“Kamu itu bagaimana, pertanyaannya ke mana-mana? Ini sedang bicara soal uji kelayakan Tamiya, uji emisi. Jangan dijadikan uji emosi buat saya! Pokoknya harus diuji. Tentunya nanti akan ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk administrasinya dan biaya khusus,” ujarnya menutup sesi tanya jawab.

Popular Posts